Rina Utami (ketiga dari kanan) berfoto bersama peserta IVLP dari negara lain di depan Gedung Putih, Washington DC, Amerika. (Dok. Pribadi)

Anak-anak dan remaja merupakan usia strategis untuk menanamkan pendidikan kesehatan dan kebencanaan. Penyadaran sejak dini terhadap mereka mampu membentuk generasi Indonesia yang sehat dan siap menghadapi potensi bencana di Indonesia. Meskipun demikian, tidak mudah untuk membangun kesadaran terhadap kesehatan dan kebencanaan terhadap anak dan remaja. Salah satu tantangannya adalah metode pendidikan yang menarik bagi anak dan remaja.

Hal inilah berusaha dijawab oleh Rina Utami, Alumni IVLP dengan tema Ring of Fire, pada 2008 silam. Hasilnya, sebuah buku Pengurangan Risiko Berbasis Remaja dan berbagai modul tentang kesehatan dan penanggulangan bencana. Karya lainnya berupa video tentang kesiap-siapan bencana untuk remaja.

Menariknya, Pengurus Bidang Kebencanaan & Relawan PMI Provinsi Jawa Tengah ini menggunakan metode partisipatoris dalam menyusun buku, modul, dan video tentang kesehatan dan kebencanaan tersebut. Tidak tanggung-tanggung, Rina mengundang perwakilan Palang Merah Remaja (PMR) yang masih duduk di bangku SMA dari 34 provinsi untuk ikut mencurahkan kreativitasnya guna menyusun berbagai media penyadaran kesehatan dan kebencanaan.

Dalam menyusun media ini, Rina benar-benar memberikan kesempatan berkreasi seluas-luasnya kepada perwakilan PMR yang diundangnya. Mereka kemudian bereksperimen dengan gambar, permainan, dan berbagai media yang sedang tren di kalangan anak dan remaja. Hasilnya, tentunya sebuah metode yang bahasa, budaya, dan medianya sesuai dengan remaja dan pelajar. “Substansinya memang tidak banyak berubah, tetapi kemasannya menjadi lebih trendi dan menarik bagi pelajar dan remaja,” ungkap Rina.

Melalui metode partisipatoris ini, Rina banyak tercengang menyaksikan kreativitas pelajar SMA. Sebagai contoh dalam membuat video gempa. Mereka berinisiatif untuk menggoyangkan kamera agar penonton benar-benar menyaksikan gempa. Kreativitas lainnya ketika para pelajar membuat objek video berupa sosok orang dari guntingan kertas. “Saya sendiri tidak terpikirkan. Namun, mereka kok bisa (membuat karya-karya kreatif),” aku Rina.

Setelah seluruh media penyadaran kesehatan dan kebencanaan selesai, lulusan Pendidikan Bahasa Inggris Universitas Negeri Semarang (UNNES) ini kemudian mengujinya di beberapa daerah di Indonesia. Hasilnya, banyak siswa dari kalangan SD hingga SMA menyukai media karya anggota PMR jenjang SMA dari seluruh Indonesia tersebut.

Rina Utami dalam salah satu aktivitas Palang Merah Indonesia. (Dok. Pribadi)

Sebagai contoh dalam permainan Ular Tangga yang sudah dimodifikasi untuk kebencanaan. Permainan tersebut dicetak di media dua dimensi seukuran setengah luas lapangan tenis. Adapun pemainnya menjadi bidak dalam media ini. Ketika diperkenalkan ke publik, banyak siswa dari kalangan SD hingga SMA yang ketagihan dengan permainan ini. “Bahkan, ada anak SD yang nangis karena tidak sempat mendapat giliran untuk main,” tutur Rina sembari tertawa geli mengingat kejadian tersebut.

Tentunya, tidak mudah bagi staf Technical Assitance and Training Teams (TATTs) ini untuk mewujudkan metodenya tersebut. Pasalnya, banyak kalangan yang menyangsikan sekaligus menentang ide Rina. Meskipun demikian, wanita yang akrab disapa Rinut ini terus berjuang untuk meyakinkan koleganya di PMI tentang idenya tersebut. Pada akhirnya, Rina berhasil membuktikan bahwa metodenya tersebut berhasil menarik pelajar di Indonesia untuk belajar tentang kesehatan dan kebencanaan. Bahkan, para pelajar ini bisa mengembangkan metode fasilitasi sendiri kepada teman-temannya.

Ditanya tentang inspirasi media penyadaran partisipatoris ini, Rina kemudian bercermin ke masa-masa ketika dirinya masih berseragam abu-abu. Kala itu, Rina selalu disuguhi banyak media pembelajaran yang dibuat oleh orang dewasa. Di sisi lain, wadah untuk dirinya berekspresi pun sangat sempit kala itu. “Makanya, ketika saya mendapatkan mandat sebagai Kepala Sub Divisi PMR, saya berusaha memberikan wadah bagi anggota PMR untuk berkreasi,” papar Koordinator Penugasan Relawan untuk Tanggap Darurat Bencana Tsunami Aceh 2004-2008 ini.

Kini, modul dan buku media penyadaran kesehatan dan kebencanaan ini sudah digunakan di seluruh Indonesia. Bahkan, Palang Merah Indonesia (PMI) masih menerapkan metode ini untuk menyusun modul dan buku terkait remaja, kendati Rina sudah tidak lagi berperan di dalamnya. Menariknya, negara tetangga Timor Leste menerapkan metode serupa untuk menyusun pelatihan dan modul untuk PMR setempat.

Setelah melalui proses ini, Rina semakin optimis bahwa para pelajar dan remaja bisa membangun sendiri media untuk kepentingan mereka. Bahkan, karya pelajar lebih mampu dipahami sesamanya dibandingkan media yang dibuat oleh orang dewasa. Oleh karena itu, Rina berharap ada proses keberlanjutan terhadap proses ini. “Semoga, semakin banyak remaja yang mampu untuk mengkreasikan dan menciptakan media-media pembelajaran yang menarik,” ungkap Rina. “Dan kalau mereka mampu mengadaptasi media yang berbasis teknologi, kenapa tidak?” tandasnya.***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *