Oleh Yusuf Daud*, Philippines June 5th , 2017

Daud Yusuf (Foto: dok. pribadi)

Puasa demi puasa , Ramadan demi Ramadan, beserta pengalaman yang menyertainya, dengan segala apa yang terjadi. Tampaknya, semua itu belum cukup mengantarkan kita dari permukaan pengetahuan menuju kepada kedalaman ilmu “makan sejati”. Ilmu ini hanya makan ketika lapar dan berhenti makan sebelum kenyang.

Pengendalian

Puasa mengajarkan dan melatih pelaku-pelakunya untuk makan, untuk memiliki sejumlah uang dan kekayaan, untuk bersedia menggenggam kekuasaan, untuk menjadi ini dan itu atau melakukan apa pun saja. Tentunya, hanya ketika kita benar-benar dalam keadaan “lapar sejati”, bukan dalam keadaan “merasa lapar karena nafsu”.

Dalam hal ini, puasa Ramadan sungguh merupakan momentum yang mengasyikkan untuk bercermin kembali (returning back to the Origin). Untuk meluncurkan sinar “Rontgen” ruhaniah ke dalam realitas jiwa yang paling mendalam.

Bagaimana pun, arti kehidupan antara lain sanggup untuk menaklukkan segala iming-iming. Seolah-olah iming-iming surga itu adalah suatu kesengajaan agar manusia melakukan transendensi atasnya, kemudian mencari, merindukan, dan mengejar sesuatu yang lebih hakiki, sejati, serta kebahagiaan yang sebahagia-bahagianya.

Mekanisme dan penghayatan  puasa adalah saat-saat paling jernih untuk meneropong “hama-hama wereng” di dalam lubuk bathin kita yang paling dalam. Juga melihat kutu-kutu loncat dan benalu di galaksi mentalitas kita. Pun menengok cecunguk-cecunguk di dalam kosmik kepribadiaan kita. Manusia berpuasa untuk mengubah dirinya menjadi menang atas dirinya sendiri.

Kemenangan sejati manusia dalam menggarap dirinya dalam sebuah metodologi samawi ini disebut puasa. Barang siapa berpuasa dengan penuh iman dan ihtisaban, maka akan diampuni dosa-dosanya yang lalu. Iman sendiri berarti yakin bahwa puasa adalah perintah Tuhan. Selain itu, berpuasa juga lebih baik untuk kehidupan dunia dan akhirat bila kita memahaminya (QS. 2: 184). Maka, puasa yang dilakukannya semata-mata hanya karena Allah. Bukan karena kewajiban saja, atau karena terpaksa maupun dipaksa.

Sedangkan Ihtisaban berarti di dalam puasa disertai dengan perenungan (contemplation), mawas diri (introspection), memperhitungkan diri (evaluation), dan menemukan kesimpulan-kesimpulan (conclusion). Aktivitas tersebut sebagai usaha diri untuk mengubah atau memperbaiki perannya sebagai wakil Tuhan  (co-Creator) di muka bumi ini.

Dalam bahasa manajemen modern, setelah satu tahun usaha beroperasi, maka diperlukan: evaluasi, dekonstruksi, revisi-revisi suatu sistem, dan tata aturan kerja maupun teknik petunjuk pelaksanaannya. Dalam hal ini, Tuhan memberikan metode yang lebih baik. Bukan dengan cara mengubah konsep, sistem, atau pun aturan-aturan pelaksanaan, melainkan dengan mengubah diri.

Dalam hal ini, sebuah perencanaan, baik itu berupa konsep, tata kerja, aturan-aturan yang telah diubah atau diperbaiki, tidak akan efektif jika pelaku-pelakunya tidak mau mengubah diri. Manusia atau pelaku harus lebih dahulu diubah. Jika manusianya berubah, akan berubah pula konsep-konsepnya, cara kerja, dan akhirnya akan berubah hasil kerja atau situasinya. Untuk mengubah diri (melakukan dekonstruksi) inilah Tuhan memberikan metodologi berupa Puasa.

Puasa menjungkir-balikkan semua keadaan. Kebiasaan makan 3 kali sehari diubah menjadi 2 kali sehari. Saat seseorang ingin makan, dilarang makan. Sebaliknya, saat seseorang tidak berselera makan, justru diperintahkan untuk makan (sahur).

Perubahan

Kebergantungan manusia kepada bumi untuk makan dan minum serta kebergantungan manusia kepada nafsu (marah, gosip, sombong, dan merasa benar sendiri) dibendung. Pada saat itulah momen dekonstruksi dimulai dengan cara melakukan tindakan yang disebut ihtisab (contemplation, introspection, evaluation, and conclusion).

Ketika segala kekuatan hawa nafsu dibendung, pasti ia ingin mendapatkan terobosan. Oleh karena itu, nafsu harus kita pandu ke mana larinya. Jika sanggup memandu nafsu, berarti sudah berpengetahuan tentang nafsu. Dengan demikian, manusia tidak akan terbawa dan terombang-ambing oleh hawa nafsunya sendiri.

Perihal mengendalikan hawa nafsu ini, Tuhan menjelaskannya dalam Surat Ar-Ra’d ayat 11 (QS. 13 : 11). Makna dari ayat tersebut menandakan bahwa situasi di luar tidak akan berubah sebelum situasi  di dalam berubah. Dunia ini dan bangsa ini, khususnya bangsa Indonesia, tidak akan berubah menjadi bangsa yang besar dan baik sebelum manusianya berubah.

Ubahlah manusianya, maka akan berubah pula konsep, aktivitas, kreativitas, dan akhirnya akan berubah situasinya. Namun, kebanyakan manusia merasa takut, khawatir, atau tidak sanggup mengubah diri. Misalnya, untuk mengubah diri menjadi orang jujur, dia tidak sanggup. Ada istilah bahasa Jawa mengatakan: jujur ajur.

Marilah kita terus berjalan menurut panggilan Tuhan. Mengubah diri untuk mengubah situasi. Mengubah diri menuju jalan Tuhan, berarti mengubah diri ke arah TAQWA (perilaku konstruktif, transformatif, dan mengembangkan). Taqwa itulah target puasa  (QS. 2 : 183). Taqwa itulah cakrawala perjalanan kemusliman manusia. Taqwa lebih tinggi dari nilai kebenaran dan nilai cinta.

Taqwa itu suatu atmosfer yang bukan main menyejukkan, menenteramkan, dan membahagiakan. Atmosfer ini terletak di garis kemungkinan “LIQO RABB”, yakni kemungkinan pertemuan hamba-hamba hina-dina macam kita dengan Tuhan.

Binatang Pun Berpuasa

Puasa telah ditetapkan Tuhan kepada umat manusia dari zaman ke zaman. Bahkan, Tuhan telah menetapkan puasa kepada makhluk sebelum manusia, yakni binatang. Sebelum manusia diciptakan, Tuhan terlebih dahulu menciptakan dunia binatang.

Binatang pun berpuasa. Sang induk ayam berpuasa untuk menjaga kelestariannya (regenerasi). Ulat berpuasa untuk mengubah dirinya dari sang perusak (destruktor) menjadi sang pembangun (kupu-kupu, konstruktor). Pun sang ular berpuasa untuk menjaga elastisitas kulitnya guna menguatkannya. Dalam hal ini, ular harus berjuang mati-matian.

Ular sendiri kerap menelan kadal serta makan ayam, katak, dan apa saja yang ada dihadapannya untuk membuat kulitnya semakin kuat. Tentunya, kulit kuat ini membuatnya tidak mudah cedera oleh tusukan duri, kerikil-kerikil tajam, ataupun sengatan matahari.

Semakin banyak yang dimakan, maka akan semakin tebal kulitnya. Namun, setelah semakin tebal kulitnya, akan semakin hilang elastisitasnya. Karena kehilangan elastisitas inilah, akhirnya ia tidak sanggup lagi bergerak bebas.

Pembebasan

Kondisi ular ini bagaikan kondisi manusia. Dalam perjuangan budaya, manusia senantiasa ingin naik dari satu tahap ke tahap yang lebih tinggi. Dia tidak ingin cedera oleh situasi alam. Ketika masih miskin, dia berpakaian apa adanya dan bebas pergi kemana saja.  Dia pun bebas bercanda dengan kawan-kawannya di café, gardu pos hansip atau pun pos siskamling. Jiwa raganya tidak terbebani (liberated, terbebaskan).

Namun, setelah hasil perjuangan hidupnya, semakin lama, semakin tinggi. Tiba-tiba saja dia terbelenggu. Dia tidak lagi sanggup berpakaian sederhana. Dia pun tidak sanggup lagi bercengkerama dengan kawan kawannya yang dulu. Gengsi.

Itulah manusia. Dia manusia yang senantiasa ingin naik dari satu tahap ke tahap berikutnya yang lebih tinggi. Namun, setelah sampai di atas, dia tidak sanggup lagi membaur dengan mereka yang berada di posisi paling bawah. Terbelenggu oleh waktu, tugas, keamanan, aturan, gengsi, dan sebagainya. Padahal, manusia yang paling bawah itulah yang jumlahnya paling banyak.

Pendeknya, hidupnya tidak merdeka. Meskipun demikian, orang-orang yang terbelenggu budaya ini bisa kembali elastis berhubungan dengan sanak famili dan teman. Mereka juga bisa bercengkerama dengan teman-teman lamanya yang masih berada di posisi paling bawah. Tentunya, setelah dia selesai berpuasa, yakni pada hari idul fitri yang sudah kembali pada jati dirinya yang sejati.

Hal ini bagaikan ular yang telah selesai melakukan pertapaan. Setelah badannya panas, kulitnya pun mengelupas. Akhirnya, ular berganti dengan kulit baru yang masih elastis.

Ramadan fasting is switching off the fire of emotions, wild passions. It is the pathway to spirituality. It is the way to access our reality. It is not only a festival, but a way of life. It would be wrong to think that remaining fasting Ramadan once a year is enough. It is certainly not enough. One must practice fasting on a daily basis.

Fasting does not take you away from your world. Does not change the outer routine of your life. Fasting colors your world, and your life. Fasting fills your being with a fresh aroma. You are the same person, and yet you are not.

From outside nothing changes. You are still you. You may change your outfit. You may wear a robe instead of trousers and a shirt —that does not change your body, your physique. The body is still the same. Your physical needs are still there.  And yet something changes. The change is inner—it is  not outer. Outwardly, no change is dictated. Inwardly, you are a new being.

Fasting is celebrating silence and it is living meditatively. It is living harmoniously with nature, environment with fellow human beings. Fasting is living in peace with oneself, and with others. Fasting is living worshipfully. It is living in God consciousness. It is seeing the face of God in the West (zahir) and in the East (bathin). And also discovering the temple of God within one’s own being.

Kembali pada Fitrah

Orang berpuasa akan merasakan badannya panas dan tubuhnya gemetar. Secara fisik, tubuhnya yang terbiasa disuplai kalori dari luar, tiba-tiba tidak disuplai. Energinya keluar terus, tetapi kalori tidak masuk. Sebagai gantinya, sel-sel yang ada di dalam daging, sel-sel yang ada di dalam tulang, bahkan sel-sel yang ada di dalam otak, terpaksa dibakar untuk menjamin energi selama melakukan aktivitas pada bulan puasa.

Sel-sel dalam tubuh berguguran dan dimakan sendiri oleh tubuh, sehingga badannya menjadi kurus. Sel-sel lama yang memiliki rekaman dosa, diganti dengan sel-sel baru. Setiap perbuatan manusia direkam oleh sel-sel, sehingga sel-sel itu memiliki karakter seperti perilaku pemiliknya sendiri.

Pada penghujung puasa, semua sel lama yang penuh rekaman dosa telah berganti dengan sel-sel baru. Sel-sel baru ini masih bersifat alami dan suci. Sel-sel baru inilah yang akan digunakan untuk operasional, mengubah sistem, mengubah ungkapan diri dan perbuatan dari kegelapan menuju cahaya cemerlang kehidupan sebelas bulan yang akan datang.

Pada momen ini, manusia kembali ke fitrah. Kembali kepada jati dirinya yang sejati dan tidak berbeda dengan Ilahi (al-Ruh). Maka ungkapan dirinya tidak hanya di dominasi oleh ketajaman akal, kelembutan moral, atau kekuatan fisiknya. Namun juga oleh kekuatan Ruh yang berada di balik dirinya.

 

In light and love,

Yusuf Daud, is a Sufi practitioner, an International Certified Trainer of Inter religious & Intercultural dialogue, peace building studies, and ambassador of peace – Interreligious and Intercultural Dialogue KAICIID ( King Abdullah bin Abdul Aziz center for Interreligious and Intercultural Dialogue)  Vienna. Check his bio in KAICIID

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *