Riri Artakusuma di salah satu sudut kota di Amerika.

Riri Artakusuma – Minneapolis, 6 November 2011

Dua minggu sudah saya melewati pengalaman yang sangat membahagiakan dalam hidup saya. Bisa datang ke sebuah negeri adidaya yang kebijakannya mempunyai pengaruh besar dalam oraganisasi dunia berjuluk Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB). Ya, inilah Amerika!

Keberadaan negeri ini memang sangat kontroversial, terutama bagi masyarakat muslim. Kebijakan-kebijakan negeri ini dinilai menyudutkan masyarakat beragama Islam.

Saya sempat berbincang-bincang dengan salah satu kawan saya sesama peserta program IVLP for Journalist. Ehab Husein namanya. Dia merupakan Ph.D dari Universitas Alexandria, Mesir. Sebagai akademisi, Ehab menilai bahwa Amerika hanya memanfaatkan kepentingannya di banyak negara di dunia melalui berbagai aksi huru hara. Salah satunya melalui kerusuhan yang terjadi di Mesir guna menggulingkan kepemimpinan Hoesni Mubarak.

Pun pandangan kawan saya Ali, seorang jurnalis dari koran terbesar di Yaman. Menurutnya, Amerika selalu mengatasnamakan demokrasi untuk mengintervensi negara-negara lainnya.

Saya pikir, ada pandangan berbeda bila saya menanyakan kepada kawan saya Titania yang merupakan jurnalis asal Denmark. Ternyata, penilaian Titania terhadap Amerika sama saja seperti dua kawan saya yang lain.

Hmmm… Saya mencoba memahami pandangan mereka dalam melihat sosok Amerika. Tentunya, hal ini tidak terlepas dari konflik yang terjadi di Timur Tengah serta dunia internasional lainnya. Dalam hal ini, tidak bisa dipungkiri bahwa ada black perception atas Amerika. Meskipun demikian, saya tetap akan menyampaikan beberapa hal yang mungkin sangat bermanfaat tentang Amerika, baik bagi saya maupun bagi Anda yang hendak mempelajari kebaikan dari negeri ini.

Selama dua pekan, saya tidak hanya menghabiskan waktu di Washington DC semata. Namun juga mengunjungi Denver, Colorado, dan Minneapolis, Minnesota. Dari ketiga kota ini, ada beberapa kesamaan inspirasi, yaitu:

  1. Amerika banyak memiliki museum, terutama di Washington DC. Saya melihat begitu besarnya antusias masyarakat untuk pergi ke museum. Saya mencoba mengobrol singkat dengan beberapa pengunjung tentang alasan mereka mengunjungi museum. Secara umum, para pengunjung ini ingin mengetahui sejarah. Dan hal inilah yang saya lihat di Amerika. Bangsa ini sangat menghargai sejarah. Tidak heran bila bangsa ini menjadi besar.Ketika saya mengunjungi Colorado Academy, mereka mempunyai studi tentang sejarah dunia. Dan ternyata studi tersebut menjadi salah satu subjek yang paling diminati oleh siswa. Bahkan saya bersama IVLP Fellows mendapatkan kesempatan untuk menceritakan negara kami masing-masing di hadapan anak-anak berusia 9-14 tahun. Wow, rasanya sangat mengagumkan.Sebagian siswa tersebut aktif bertanya tentang pandangan saya dan rekan-rekan IVLP Fellows tentang demonstrasi di Mesir dan peranan Amerika untuk mewujudkan kemerdekaan berpendapat di Kamboja serta pertanyaan lainnya. Sungguh, bagi saya ini menjadi salah satu yang mengagumkan karena saya tidak pernah menemui hal semacam ini di Indonesia.Tentunya, ini menjadi Pekerjaan Rumah bagi pemerintah Indonesia untuk mengembangkan sistem edukasi di Nusantara. Tidak hanya sekedar menyenangkan melalui story telling, tetapi juga membangkitkan semangat kebangsaan serta mimpi untuk menjadi pemain global dalam kancah internasional.
  2. Masyarakat Amerika sangat pintar memanfaatkan waktu. Ketika saya melakukan perjalanan ke Pentagon City menggunakan kereta bawah tanah berjuluk Metro Trans, di berbagai sudut, saya melihat masyarakat Amerika menggunakan waktunya dengan membaca. Hal ini mereka lakukan ketika menunggu Metro Trans maupun selama dalam perjalanan di kereta.Jenis bacaannya pun beragam. Mulai dari buku fiksi, non-fiksi, bahkan koran dan majalah. Mereka memanfaatkan waktunya dengan membaca. Memang tidak semua orang membaca selama di Metro Trans. Namun, sebagian besar masyarakat Amerika melakukan aktivitas membaca ketika berada di Metro Trans. Tidak heran bila bangsa ini kaya akan pengetahuan.
  3. Kunjungan ke NewYork Times.

    Segala fasilitas publik sangat memperhatikan orang-orang berkebutuhan khusus. Hal ini membuat para penyandang berkebutuhan khusus mudah untuk mempergunakan fasilitas publik. Tidak hanya itu saja. Fasilitas publik pun dibuat mudah dan familiar bagi setiap orang. Tidak hanya bagi difabel, tetapi juga bagi masyarakat dan wisatawan. Harapannya, tidak ada kata nyasar di sudut jalan Amerika.

  4. Masyarakat Amerika sangat menghargai perbedaan. Dari kunjungan saya ke Washington DC, Denver, hingga Minneapolis, saya melihat masyarakat Amerika sangat menghargai perbedaan. Ini bukan cerita karangan saya saja, tetapi memang begitulah faktanya.Ketika saya berkesempatan berkunjung ke Department of State of America, salah satu fasilitator IVLP Program di departemen ini merupakan wanita berjilbab.Kemudian, ketika saya mengunjungi Graduate School di Washington DC, fasilitator saya yang memberikan pandangan jurnalisme terhadap politik Amerika, juga seorang muslim. Akram Jalil namanya.Bahkan, ketika saya membuat cerita ini pun, saya melihat satu tayangan televisi berjudul In Diversity Focus di Minnesota. Host dari program ini pun seorang keturunan India. Sungguh, sangat beragam.Jadi, tidak benar ketika kita menilai Amerika secara keseluruhan sebagai bangsa yang tidak menghargai perbedaan. Sebaliknya, banyak program dan kebijakan pemerintah yang memperhatikan masyarakat imigran di Amerika. Bagaimana hak-hak mereka, dan sebagainya.Oh, iya. Satu hal yang juga ingin saya sampaikan ketika melakukan program Home Hospitality yang memperkenalkan masyarakat lokal dengan pendatang. Dalam program ini, saya berada di satu keluarga di Denver. Ternyata, anak perempuannya belajar Bahasa Arab dan mempelajari Islam. Ketika saya datang, mereka sungguh sangat senang. Bahkan, interaksi di antara kami sungguh hangat, layaknya datang ke sebuah keluarga.
  5. Masyarakat Amerika sangat menghargai lingkungan. Hal ini mungkin bukan sesuatu yang baru di telinga anda. Bagaimana pun, orang-orang Amerika sangat menghargai lingkungannya. Semua berkomitmen untuk menjaga lingkungan. Bahkan, hampir semua fasilitas di Amerika diusahakan ramah lingkungan.
Berpose di depan Gedung Capitol di Washington DC.

Masih banyak pembelajaran yang bisa saya ambil dari sebuah negara yang dikenal dengan nama Amerika. Dengan segala lebih dan kurangnya, saya tetap mau melihat sisi baik yang bisa saya pelajari. At least, bagi diri saya sendiri.

Bukan suatu kebetulan saya berkesempatan melihat bumi ALLAH yang lainnya selain Indonesia. Dalam kunjungan ini pun, saya  mempunyai kesempatan untuk memperkenalkan Indonesia dari berbagai sudut, mulai dari kebebasan pers, budaya, hingga keberagamannya. Sungguh, saya sangat menikmati ketika berkesempatan untuk memperkenalkan Indonesia di berbagai forum selama program IVLP.

Inilah sebagian cerita yang ingin saya sharing kepada anda. Terlepas anda suka atau tidak, saya hanya ingin menyampaikan bahwa banyak yang bisa kita pelajari dari negara adidaya ini. Yang baik ambil, yang tidak tinggalkan!

Jangan kita berkutat pada persoalan menyukai atau tidak, kemudian menutup diri dan pikiran kita untuk belajar dari Amerika. Semoga, keterbukaan itulah yang membuat kita dan bangsa Indonesia nantinya menjadi besar. Seringkali, kita sibuk mengurusi dan mengoreksi yang lain, tapi kita lupa untuk membenahi kondisi diri sendiri ataupun negeri ini. Pesan ini pun saya tujukan bagi sahabat-sahabat dan saudara muslim saya yang lain.

Di akhir, coba baca dan pahami kata-kata Guru saya, Prasetya M. Brata di bawah ini:

“Aku punya DETERJEN yang aku sukai dan aku yakini yang membersihkan paling bersih. Bahkan, deterjen itu aku tenteng ke mana-mana dengan bangga. Apalagi kalau ketemu orang yang nenteng-nenteng deterjen yang sama, makin senang dan bergairahlah aku membicarakan tentang deterjen kami. Semua orang kalau bisa kuanjurkan pakai merk deterjen yang kubawa. Dulu aku kurang suka pada deterjen merk lain, sekarang sih berpegang pada ‘bagiku deterjenku, bagimu deterjenmu’. Begitu petang datang, saatnya pulang. Aku terkejut, pakaianku kotor sekali. Padahal rumahku Maha Suci. Setiap orang yang pulang ke rumah itu haruslah berpakaian bersih. Aku menyesal, karena kerjaku sepanjang hari hanya membicarakan dan mengajak orang lain pakai merek deterjen yang kubawa, tapi aku lupa memakai deterjen itu untuk mencuci pakaianku sendiri.”

Lihat pula QS Al-Hujarat : 13

“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling takwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *