I still have a dream, a dream deeply rooted in the American dream – one day this nation will rise up and live up to its creed, “We hold these truths to be self evident: that all men are created equal.” I have a dream.
—Martin Luther King Jr.

Martin Luther King Jr. (Foto: masbrooo.com)

Pidato berjudul “I Have a Dream” di atas benar-benar membekas di benak Avin Nadhir ketika berkunjung ke Amerika pada 2012 lalu. Baginya, pidato yang disampaikan oleh Martin Luther King Jr. tersebut seperti memperteguh keyakinannya bahwa mimpi merupakan kunci untuk membangun masa depan. Tidak hanya masa depan manusia sebagai individu, tetapi juga manusia sebagai suku, bangsa, bahkan negara.

Martin Luther King Jr. sendiri merupakan seorang kulit hitam yang memperjuangkan persamaan hak atas kaumnya di Amerika. Tuntutan ini selaras dengan cita-cita para pendiri Amerika yang tercantum dalam konstitusi dan piagam deklarasi kemerdekaan negara tersebut. Sayangnya, menjelang 200 tahun berdirinya Amerika, Negeri Paman Sam belum mampu mewujudkan negara yang mengakui hak asasi semua orang, termasuk masyarakat kulit hitam.

Dalam memperjuangkan nasib kaumnya, pria peraih Ph.D. dari Universitas Boston ini mempergunakan prinsip perjuangan Mahatma Gandhi, yaitu: perjuangan tanpa kekerasan. Dia kerap melakukan protes dan aksi boikot untuk menarik perhatian media dan pemerintah agar mengakui hak-hak atas orang-orang kulit hitam Amerika.

Puncak perjuangan Martin terjadi pada 28 Agustus 1963. Ketika itu, 200 ribu pendukung hak-hak sipil Amerika melakukan Pawai untuk Pekerjaan dan Kebebasan di Washington dan berkumpul di depan Lincoln Memorial. Dalam kesempatan tersebut, Martin Luther King Jr. menyampaikan pidato berdurasi 17 menit berjudul “I Have A Dream”. Pidato ini kemudian menjadi perhatian publik Amerika dan berhasil mendorong pemerintah federal untuk mewujudkan kesetaraan terhadap semua orang di Amerika, termasuk masyarakat kulit hitam. Lebih dari itu, pidato ini menginspirasi banyak orang yang hidup pada masa-masa sesudahnya, termasuk menginspirasi Avin Nadhir.

Rumah MLK
Avin Nadhir berfoto di depan rumah Martin Luther King di Atlanta, Georgia, Amerika. (Foto: dok. pribadi)

Perkenalan Avin dengan Martin sendiri terjadi ketika Avin mengunjungi Lincoln Memorial kala mengikuti rangkaian aktivitas IVLP. Kala itu, Avin mengunjungi tempat di mana Martin berdiri pada tahun 1963. Di posisi tersebut ditandai dengan keramik yang memuat judul pidato Martin dan namanya serta tanggal pidato tersebut digaungkan ke publik luas.

Tidak jauh dari situ, terdapat Martin Luther King Memorial. Di tempat ini, pengunjung bisa menyaksikan kutipan-kutipan Martin dalam pidato-pidatonya yang menyiratkan perjuangannya atas hak asasi manusia. Avin sendiri berkesempatan mengenal lebih dalam tentang pemikiran peraih Nobel Perdamaian tahun 1964 ini.

Menariknya, dalam rangkaian kunjungan ke kota-kota di Amerika, Avin berkesempatan singgah di Atlanta, Georgia. Kota ini merupakan tempat kelahiran Martin pada 15 Januari 1929 silam. Kesempatan ini dimanfaatkan Avin untuk menelusuri museum Martin Luther King Jr. serta berziarah ke pusara tempat peristirahatan terakhir Martin.

Rangkaian perjalanan berkenalan dengan Martin Luther King Jr. menyadarkan Avin bahwa dirinya tidak hanya harus bermimpi, tetapi juga membangkitkan mimpi-mimpi anak-anak Indonesia. “Ketika saya renungkan (pidato ‘I Have a Dream’), ternyata benar bahwa banyak anak-anak di negeri kita belum memiliki cita-cita atau impian yang jelas,” ungkap Avin.

Bagaimana pun, kondisi mimpi anak-anak di Indonesia sendiri sangat terpuruk. Di beberapa bagian, mereka hanya mampu bermimpi sebatas aktivitas orang tua di lingkungan mereka. “Bahkan, ada yang bermimpi menjadi pencuri,” ungkap Avin. “Karena kehidupan di lingkungan anak-anak tersebut kebanyakan mencuri,” tandasnya lagi.

Seminar I Have a Dream
Avin Nadhir kala memberikan seminar ‘I Have a Dream’. Seminar ini sudah menjangkau lebih dari 25 ribu siswa dan mahasiswa di seluruh Indonesia. (Foto: dok. pribadi)

Dari renungan ini, Avin bertekad untuk membangun pola pikir positif anak-anak Indonesia. Beliau kemudian menuangkan kegelisahannya ini dalam program motivasi setibanya di Indonesia. Programnya sendiri diberi nama persis seperti pidato Martin di Lincoln Memorial, “I Have a Dream”. Program ini ditujukan untuk memperkuat semangat dan cita-cita para pelajar dan mahasiswa di Indonesia. Menariknya, Avin mendedikasikan pelayanan ini secara cuma-cuma, tanpa mensyaratkan uang sepeser pun.

Dalam pelatihan ini, Avin memberikan motivasi singkat tentang cara membangun mimpi dan cita-cita. Selama 3 jam, Avin memberikan pelatihan dengan metode hipnoterapi. Metode ini sangat ampuh untuk menanamkan keinginan untuk bermimpi peserta pelatihan, bahkan hingga alam bawah sadar. Hingga kini, sudah 25 ribu pelajar dan mahasiswa yang pernah mengikuti program ini.

Meskipun demikian, Avin menilai justru motivasi terbaik harusnya dimulai dari keluarga. Pasalnya, kekuatan mimpi seorang anak akan meningkat berkali-kali lipat ketika mendapatkan dukungan keluarga. “Karena, pendidikan terbaik adalah keluarga,” tandas Avin. “Tugas saya hanya berbagi agar mereka (anak-anak Indonesia) memiliki mimpi,” tuturnya Avin.

Perihal keluarga ini, Avin banyak belajar dari Martin Luther King. Avin masih terngiang ketika penjaga museum Martin Luther King menceritakan pertemuan harian keluarga pembela hak asasi kulit hitam tersebut, khususnya pada saat makan malam. Pada momen tersebut, setiap anggota keluarga harus menceritakan aktivitas mereka setiap hari, sejak pagi hingga malam menjelang. Saking pentingnya momen tersebut, Martin akan menunda makan malam jika salah satu keluarga belum datang. Bagaimana pun, makan malam Martin Luther King merupakan ajang komunikasi antara orang tua dan anak-anaknya agar tercipta keluarga yang harmonis.

Dari rangkaian perjalanan mengenal Marthin Luther King ini, Avin berharap bahwa keluarga-keluarga di Indonesia mampu membangun komunikasi dan pendidikan anak-anaknya. Kebiasaan ini diharapkan mampu mencetak generasi penerus bangsa yang lebih baik. Lebih lanjut, Avin juga mengajak anak-anak Indonesia untuk membuat cita-cita setinggi langit. “Kalau cita-citanya tinggi, kalau jatuh, paling tidak masih nyangkut di bintang-bintang,” pesannya.***

Avin & Sahabat Desa Inggris Singosari
Avin Nadhir (tengah paling atas) bersama Sahabat Desa Inggris Singosari. (Foto: dok. pribadi)

2 tanggapan untuk “Avin Nadhir, Menjadi “Martin Luther King Jr.”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *